Selasa, 10 Maret 2015

kalibiru


Kalibiru

(diperbarui tgl 2/23/2015) Tiket
Rp 3.000 (masuk)
Rp 10.000 (naik pohon)
0813 9294 7249

KALIBIRU
Menikmati Perbukitan Menoreh yang Syahdu

Kalibiru, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia (lihat peta)
Phone: 0813 9294 7249
Menunggu senja datang dari atas pohon pinus di hijaunya pegunungan Menoreh sambil memandang telaga di kejauhan. Udara segar dan suasana tenang menjadi pelepas ketegangan pikiran.
Sungguh ramah Pegunungan Menoreh sore itu, setelah satu jam berkendara dari Jogja, hawa dingin menyegarkan dipersembahkan kepada kami sebagai salam pembuka. Perasaaan yang sejak siang diburu hiruk pikuk jalanan kota mendadak tenang, tiba-tiba tentram. Tak ada motor berseliweran, jalanan lengang, halaman asri di rumah-rumah penduduk desa membuat kami ingin segera pindah ke sini. Melemparkan ingatan pada rumah masa kecil, rumah di kampung halaman yang kini menjadi kediaman bagi kenangan.
Kami ada di Kalibiru, sebuah desa di Pegunungan Menoreh yang menjadi pagar sisi barat Yogyakarta. Di pegunungan inilah 200 tahun silam Pangeran Diponegoro bersama pasukannya pernah berjuang melawan Belanda, sebelum akhirnya ditipu dan kemudian dibuang ke Sulawesi hingga akhir hayat. Kalibiru menjadi sebuah desa yang terkenal karena ekoturismenya. Hal itu tidak begitu saja terjadi, perlu berpuluh tahun mengembalikan keelokan Kalibiru yang sebelumnya sempat tandus karena aksi pembalakan hutan. Kini, berkat usaha penduduk menghutankan desa, wisata Kalibiru dapat menggerakkan perekonomian dan menjadi sumber penghidupan warga. Begitulah antara alam dan manusia, saling menghidupi.
Waktu paling tepat untuk datang ke Kalibiru adalah sore hari, saat matahari mulai ramah dan suasana menjadi sedikit melankolis. Di sini ada sebuah pohon pinus yang terletak di pinggir jurang, dari pohon inilah kita bisa bebas lepas memandang moleknya pegunungan menoreh. Maka, jangan ragu untuk meniti tangga gantung yang telah tersedia, duduklah dengan tenang di papan kayu yang telah terpasang, hiruplah segar udara pegunungan, hembuskan perlahan sambil menutup mata. Nikmati setiap detik yang merangkak karena waktu akan terasa sangat lambat berjalan. Sejenak lupakanlah kota, tinggalkan pikiran-pikiran tentang tugas yang menumpuk, nikmatilah pemandangan yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar